RSS Feed

Pawai Cap Go Meh

Sudah sejak lama saya ingin sekali melihat pertunjukan barongsai secara langsung, tapi selalu gagal. Akhirnya sore tadi keinginan saya itu terkabul. Tanpa direncanakan sebelumnya, tanpa disengaja.🙂

Sore tadi, saya pulang dari kampus naik angkot—seperti biasa. Saat melewati daerah sekitar Bulan-Bulan jalanan macet. Terlihat banyak orang memadati pinggiran jalan dan ini terus berlanjut sampai di dekat Pasar Proyek.

Menanti di Kawasan Proyek

Sebelumnya, seorang ibu yang berada di angkot yang sama dengan saya mengatakan akan ada iring-iringan Barongsai dalam rangka perayaan Cap Go Meh. Saya yang memang sangat menunggu momen ini tentu bersorak dalam hati. Hanya satu hal yang terlintas di pikiran saya saat itu: kesempatan ini ga boleh disia-siakan, saya harus mewujudkan keinginan saya untuk melihat pertunjukan barongsai secara langsung sore ini juga!

Saya putuskan untuk turun di daerah Proyek dan bergabung dengan banyak (sekali) orang yang juga sedang menunggu rombongan Barongsai lewat. Saya sempat bertanya dengan seorang ibu di sana, sekedar untuk meyakinkan apakah iring-iringan tersebut benar-benar akan melewati tempat kami berdiri. Beliau bilang iya, karena setiap tahun memang seperti itu. Beliau sendiri—bersama anak-anak, cucu dan tetangganya—mengaku sudah berdiri di sana sejak pukul 2 siang.

Langit sore semakin mendung, tapi masih belum ada tanda-tanda pawai Cap Go Meh akan lewat. Sekitar 20 menit menunggu, gerimis turun. Suasana mendadak riuh. Orang-orang yang sebelumnya berdiri menunggu di badan jalan berlarian ke emperan toko untuk berteduh. Saya tidak ikut berdesakan di sana dan lebih memilih bergeser sedikit dari tempat berdiri semula, kemudian mengeluarkan payung dari dalam tas. Tidak sampai 10 menit gerimis reda. Orang-orang kembali menghambur ke jalan. Menunggu lagi.

10 menit setelah gerimis reda, di kejauhan saya melihat forraider polisi mengawal grup pertama: dua buah Reog Ponorogo, dua Sisingaan—atau menurut seorang ibu di sebelah saya Kuda Depok–beberapa Ondel-Ondel dan Jaran Kepang atau yang lebih dikenal dengan istilah Kuda Kepang. Saya menghela nafas lega. Yang saya nantikan akhirnya lewat juga…

Setelah itu barulah rombongan Pawai Cap Go Meh yang lain lewat. Sulit bagi saya menjelaskan apa saja yang melintas. Jujur saja, saya tidak mengetahui nama-nama atribut pawai yang mereka bawa. Yang saya hanya tahu barongsai dan liong, hehehe… :p

Liong

Dalam pawai ini terdapat grup Marching Band, Paskibra dan anak-anak TK serta SD yang memakai pakaian adat dari berbagai provinsi di Indonesia. Ada pula tandu-tandu berhiaskan bunga yang tiap beberapa meter diayun-ayun ke kanan dan ke kiri oleh para pengusungnya. Entah apa maksudnya.

Di akhir rombongan, ada beberapa orang lagi yang diusung. Orang pertama memakai kostum hijau. Ia berpijak pada dua bilah besi besar tajam dan duduk di ujung sebuah pedang besar. Di urutan ke-dua seorang pria dengan kostum putih dan ikat kepala yang juga putih. Sama dengan si Kostum Hijau tadi, ia juga berpijak pada dua bilah besi tajam. Di sampingnya ada orang yang menciprati penonton dengan air menggunakan daun—sepertinya daun pandan. Saya tidak tahu air apa yang ada di dalam ember itu, konon jika terkena cipratan air tersebut, niscaya kita akan mendapatkan berkah. Saya terkena cipratannya. Lensa kacamata kiri saya sukses basah. Terima kasih, ya…

Di urutan terakhir, yang diusung adalah seorang kakek dengan sebutan “Dewa Datuk.” Ia mengenakan pakaian—yang saya duga—adalah pakaian adat suku Dayak, Kalimantan. Terlihat dari bulu yang terdapat di ikat kepalanya dan orang-orang di depannya yang membawa perisai dengan motif khas Kalimantan.

Rombongan habis. Pawai Cap Go Meh selesai. Penonton bubar dan kembali melanjutkan kegiatan mereka. Begitupun saya. Badan sudah terasa sangat letih, terutama kaki. Tapi saya senang sekali karena akhirnya salah satu keinginan saya terwujud, walaupun sebenarnya saya tidak terlalu puas karena barongsai yang tadi saya lihat tidak meliuk-liuk lincah seperti yang biasa saya lihat di televisi. Mungkin karena sudah sore, mereka lelah, sama seperti saya…

 

.

.

P.S. :

Terima kasih banyak saya haturkan untuk (alm.) Gus Dur.

Tanpa kebijakan beliau, mungkin saya dan masyarakat Indonesia yang lain tidak akan bisa menikmati keindahan seni bernama Barongsai.🙂

 

About Yuniarty Utami

Yuniarty Utami is a student of Information System, Faculty of Computer Science and Information Technology, Gunadarma University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: